Monday, December 8, 2025

Aku di Tahun 2025!

December 08, 2025 0 Comments

Hai! Sudah lama sekali tidak menulis, sudah 2 tahun lewat dari postinganku sebelumnya, terakhir posting di tahun 2023 dengan tulisan yang kutulis di tahun 2021... Jadi maaf jika tulisan ini terasa makin kaku yaa!


Yes, time go flies.. tapi ternyata tidak banyak yang berubah dari aku, aku tetaplah Moza dengan segudang luka & harapan, tetaplah Moza yang berusaha baik dan bangkit dari hari ke harinya, mentalku di tahun ini ternyata masih sama dengan aku beberapa tahun lalu.


Namun, saat ini aku sedang hidup didalam impianku dulu, Alhamdulillah, bersyukur sekali. Yap! Sekarang aku sudah bekerja, sudah menikah & sudah mempunyai anak! Hidup yang dulu rasanya cuman mimpi untuk aku, tapi sekarang aku melewatinya. Manusia yang dulu hanya bisa bermimpi di dalam tulisan-tulisannya sekarang sedang hidup didalam mimpinya. Yeay!


Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, semuanya bertumbuh, semuanya terbentuk, semuanya bertambah, namun ada satu hal yang rasanya tetap stuck didalam diriku yang entah mengapa sulit sekali diajak bertumbuh, yap, inner child!


Mental, hati, pikiran semua rasanya masih sama, aku ternyata masih seorang gadis kecil yang belum benar-benar sembuh atas lukanya. Masih seorang gadis kecil yang sering menangis tanpa suara. Masih seorang gadis kecil yang tidak pernah benar-benar bisa mengungkapkan isi hatinya. Masih seorang gadis kecil yang menahan dirinya dari waktu ke waktu. Bukan, bukan karena aku tidak bahagia atas hidupku sekarang, bukan juga karena aku tidak bersyukur. Tapi satu hal yang aku sadari, ternyata inner child itu benar-benar akan hidup dan membekas dalam diri kita dan juga sesekali mengkontrol hati & pikiran kita. Tapi semoga hal ini nggak berlarut seumur hidup, semoga kelak dari waktu ke waktu aku bisa sembuh dan hidup tanpa dihantui trigger-trigger yang membuat inner child ini hidup lagi.


Seperti impianku yang lain, semoga tulisan ini kelak akan menjadi kenangan, atas diriku yang benar-benar sudah sembuh! Semoga impian ini juga Allah kabulkan, juga impian-impianku yang lain. Terimakasih Ya Allah, aku sangat bersyukur! <3


Hello, ini aku di tahun 2025!
Long time no see 😜

Friday, December 8, 2023

Jawaban (2)

December 08, 2023 0 Comments

Ndak ada yang sempurna di dunia ini, sampai kita akhirnya bisa menerima ketidaksempurnaan itu menjadi sebuah hal yang terasa sempurna.

Nggak banyak yang akan aku ceritakan tentang kamu, karena pada dasarnya aku tidak suka berbagi cerita seputar kamu, pada dasarnya aku lebih senang menyimpan semua ceritanya sendiri, mengingat-ngingat setiap memorinya sendiri, biar hanya aku yang bisa menikmatinya, biar hanya aku yang bisa tahu semua, juga sebagai salah satu bentuk ikhtiarku untuk menjaga.

Bertemu kamu itu salah satu hal yang ngga pernah aku perhitungkan sebelumnya. Dari sekian banyak aspek kehidupan yang aku perhitungkan dengan matang, kamu itu aspek tidak terduga yang bisa aku syukuri. Yang aku tahu saat itu, kamu menerimaku dengan caraku dan aku menerimamu dengan caramu.

Sampai akhirnya waktu berjalan bersama kamu, tentu saja ngga berjalan semulus kelihatannya. Keinget masa-masa dimana ada banyak aspek-aspek yang mungkin gak berjalan seperti yang diinginkan, yang padahal memang Allah's plan is way better than ours, dan gak berjalan mulus itu adalah part of the 'process'. Dan aku coba menikmati 'process'nya, sembari terus-terusan nanya ke Allah atas semua pertanyaan yang belum terjawab.

'Process' itu pelan-pelan menjadikan aku lebih kenal kamu, mungkin juga menjadikan kamu lebih kenal aku. Ngga banyak yang berubah sedari awal kita bareng, hanya ada sedikit renovasi atas solusi-solusi sikap yang kita coba diskusikan (ngga sebaku ini ya), tapi aku melihat kamu bahkan dari sisi terkecil yang kamu tunjukan & itu cukup. Perasaan cukup yang selalu aku bangun atas rasa-rasaku yang terkadang banyak mau. Semoga selalu~

Aku ngga akan pamer sikap-sikap kamu yang manis & baik, cukup aku yang tau dan rasa (jangan kecewa ya), tapi yang harus kamu tau, kalau aku bertahan atas sesuatu, tandanya ada hal yang aku syukuri disitu, ada hal yang aku tau itu worth it untuk ada, dan itu kamu.

Noted : Ini ada di draft blog-ku tahun 2021, yang aku baca lagi dan aku posting di tahun 2023.




Sunday, August 1, 2021

Jawaban (1)

August 01, 2021 0 Comments
"Kisah cinta ideal menurut kamu itu apa?"

3 tahun yang lalu, disebuah job fair yang ada dikampus, aku yang sedang penat dengan segala permasalahan kehidupan, memberanikan diri untuk datang ke Dosen-ku yang juga seorang psikolog. Aku bercerita bagaimana aku ngga pernah bisa membuka hati untuk siapapun, bagaimana aku begitu sulit untuk mau beradaptasi dengan orang lain, bagaimana aku begitu gak menginginkan orang-orang, tapi juga cerita betapa aku butuh seseorang yang tepat, tapi belum ada. Pas itu rasanya hati udah gak siap lagi untuk orang lain, rasanya sendiri lebih baik daripada harus bersama siapapun.

Jawaban dari dosenku saat itu adalah jawaban yang gak pernah bisa aku lupain, sejujurnya jawaban ini juga yang mungkin membuat aku memutuskan untuk berada di hari ini.

"Moza, pada dasarnya kamu itu gak akan menemukan yang bener-bener cocok, pada dasarnya ke-idealisan kamu ini akan runtuh seketika ketika kamu menemukan orang yang mau kamu terima dan mau menerima kamu. Moza, cinta itu perihal menerima. Moza belajar menerima ya mulai sekarang"

Sejak saat itu, aku melepaskan apa yang seharusnya aku lepaskan, melupakan apa yang seharusnya aku lupakan, berjalan ditempat yang seharusnya aku berjalan. Aku benar-benar melepaskan semua hal dengan keyakinan apapun yang terjadi didepan, aku harus mempersiapkan semuanya dengan baik, bukan lagi mempermainkan sesuatu dengan mudahnya. Dengan gak lupa berdoa sama Allah supaya diberikan jalan yang terbaik dan termudah.

Kalau ditanya "Kisah cinta ideal menurut kamu itu apa?", jelas jawabannya adalah "mau sama mau menerima", aku yang siap menerima dan dia yang juga mampu menerima.

Semoga Allah mudahkan..






Friday, November 27, 2020

Manusia dengan Bermacam Masalahnya

November 27, 2020 0 Comments

Duduk di bus sambil mandangin jendela adalah rutinitas sehari-hari yang gue lakuin, ngeliatin macam-macam aktivitas dari yang sudah menahun bekerja sebagai tukang sapu, yang jualan nasi uduk, orang yang berkendara buru-buru atau beberapa orang pengemis dijalan. Memperhatikan gerak-gerik mereka, membuat gue mempertanyakan bagaimana perasaan mereka, memikirkan jam berapa mereka harus bangun, dan bertanya-tanya apakah mereka sudah sarapan apa belum, dan beberapa pikiran lain yang selalu lewat hampir tiap kali melihat segala aktivitas manusia lain.


Kadang, bertanya apa sebenernya usaha yang mereka lakuin biar hidup ngga gitu-gitu aja? emang mereka gak bosen hidup susah terus? dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin gak harus ada jawabannya.


Gue mungkin hanya salah satu dari banyaknya manusia yang sering disamperin sama pengemis atau pengamen kalau lagi makan, dimintai duit dengan muka yang memelas berharap gue dan manusia lain disitu memberikan sedikit duit yang kita punya. Beberapa dari mereka meminta secara halus dan langsung pergi jika ditolak, beberapa lagi malah lebih galak kalau gak dikasih. Keinget beberapa tahun yang lalu dimarahin nenek-nenek di kopaja gara-gara gue gak mau kasih duit dan malah ngobrol sama temen gue yang pas itu kita lagi nyasar dan harus random naik kopaja sembari menertawakan diri sendiri.


Setiap mereka datang yang ada di benak gue cuman "kasih gak ya?" atau "gue punya receh gak ya?" atau "si ibu bakal marah gak ya kalau gue gak kasih?" beberapa perdebatan yang selalu gue rasakan setiap ada pengemis yang datang ke gue. Kalau gue kasih biasanya pikiran itu langsung hilang, tapi kalau gue gak kasih, biasanya gue menyesal terus lanjut mikir "kenapa gak gue kasih ya?"


"kenapa gak gue kasih ya?", yang gue pikirin sebelum kalimat ini datang di otak gue adalah pikiran gue yang masih terpengaruh dengan fakta bahwa kebanyakan pengemis yang menggunakan uangnya untuk hal-hal yang gak berguna, atau berpikir kalau mereka sebenarnya kaya, cuman malas dan memilih untuk meminta-minta ke orang lain. Atau kalau mereka bawa anak kecil, gue suka mikir itu anak siapa, gue mikir apa mereka sebenernya orang jahat atau emang mereka sebenernya gabisa apa-apa sampai mereka memilih mengadu nasib jadi seorang pengemis. Atau sekedar pikiran kalau mereka gak dikasih mereka akan marah, gue gak mau kasih uang gue ke preman yang suka malak orang, dan pikiran-pikiran lainnya yang terlalu lama untuk membuat pengemis itu menunggu di depan gue sembari gue menyelesaikan perdebatan di otak gue. Sampe akhirnya gue bilang "Maaf", karena gue gak mau bikin orang lain menunggu. Setelahnya hati gue selalu bertanya lagi:


"Mo, yakin mereka ngga berusaha?"

"Yakin mo mereka udah makan?"

"Ngga nyesel kalau ternyata mereka emang sesusah itu?"


Dan pasti ada penyesalan-penyesalan kecil yang terbesit di hati gue.


Langsung flashback ke masa-masa dimana gue juga pernah sesusah itu. Gue yang alhamdulillah hidupnya selalu mudah harus ngerasain jatuh sejatuh-jatuhnya beberapa tahun lalu. Ngerasain harus kehilangan banyak hal cuman buat sekedar bertahan hidup, dari mulai hal-hal kecil kayak kamera, kursi sampai benda-benda besar kayak mobil, motor, dll harus diikhlaskan. Walaupun kalau gak pernah susah, mungkin gue gak akan buru-buru lulus kuliah dan masih jadi anak-anak yang suka ketawa-ketiwi sama temen-temen di tempat ngopi sambil pura-pura lupa sama skripsi, atau mungkin gue gak akan pernah ngerasain nahan laper dan makan cuman 1 kali sekali di kampus dan harus nunggu malam hari untuk makan lagi di rumah karena harus hemat demi gak minta uang jajan lagi, atau gue gak mungkin jadi Moza yang ambis cari kerja kesana kemari dengan sangat berani ngelewatin preman blok M pake heels dengan gaya sangar. Pas itu yang gue pikirin cuman "Kalau mereka macem-macem gue getok pake heels terus lari sekenceng-kencengnya", atau gue gak akan pernah berani naik busway rute Ciledug - Melawai yang tinggi banget padahal gua setakut itu sama tinggi. Karena segala kesusahan gue jadi berani dan belajar, kalau gue gak pernah susah gue mungkin gak pernah tau rasanya kerja keras, gak pernah bisa jadi wanita yang kuat & tegar, gak pernah jadi wanita yang dewasa dan cuman jadi anak kecil yang suka-suka dia aja dalam hidup, walaupun emang semua udah berlalu tapi banyak banget harusnya yang gue pelajari dari fase hidup ini.


Harusnya, yang gue yakini itu adalah mereka sedang berusaha dalam hidup mereka juga, gak tau mereka udah berapa kali jatuh dan harus bangkit, gue gak pernah tau gimana cara mereka menegarkan diri, walaupun dengan cara meminta-minta, gue gatau usaha apa saja yang sudah mereka lakukan dalam hidup. Seperti halnya orang lain gak pernah tau juga proses gue menjalani hidup pas gue lagi susah-susahnya, gak tau gimana susahnya gua menegarkan diri, gak tau gimana susahnya gua buat hati gua lapang, gak tau gimana susahnya gua muter otak buat cari solusi dari semuanya, bahkan gak tau gimana sedihnya gue karena bingung caranya gak nangis bahkan saat makan roti pagi-pagi.


Lantas kenapa gue masih harus menimbang-nimbang untuk sebuah kebaikan? kenapa gue harus mikir panjang lebar hanya untuk sekedar memberi? Padahal harusnya gue gak membutuhkan satu alasanpun untuk menolong orang lain.


Holla dunia. Maafin Moza yang masih banyak berprasangka hanya sekedar untuk berbagi, ya..





Thursday, October 1, 2020

-

October 01, 2020 0 Comments
Hal yang paling sulit dibumi ini adalah menyadarkan diri sendiri atas rasa dan pikiran yang gak baik.
Rasanya ingin sekali tidak terlalu banyak berpikir,
Ingin juga tidak terlalu banyak merasa.
Aku ingin menjadi normal dengan rasa & hati yang aku punya.

Tapi, rasanya gak semudah itu.
Rasanya aku gabisa mengatasi semuanya sendiri,
Rasanya semua terlalu abu-abu untuk hanya kukendalikan sendiri.

Bumi ini rasanya terlalu sulit memberikan aku celah untuk diskusi,
Aku kenapasih?
Aku kenapa gak bisa menumpahkan semua yang aku rasa sama orang lain?
Padahal itu mungkin bisa membantuku untuk menjadi normal.
Untuk mendengar saran-saran yang bijak.
Untuk meluaskan hati dan pikiran yang habis karena termakan diri sendiri.
Aku butuh 20.000 kata sehari, tapi rasanya kata yang keluar hanya 1000,
19.000 lainnya memakan pikiranku setiap hari.
Aku kenapa tidak mudah banget sih dalam mengendalikan pikiranku sendiri?

----- 

Hal yang paling aku suka dibumi ini adalah hujan,
Tapi bahkan hujan aja enggan turun, padahal aku ingin.
Ah, kenapasih? emang hujan benci aku?
Padahal engga, hujan lagi dijalan untuk menyejukkan hati yang lain.
Kamu sabar dulu.





Saturday, June 27, 2020

June 27, 2020 0 Comments
Kalau ada yang tanya bagaimana aku menjalani hidup,
Aku pasti jawab aku adalah orang terbahagia di bumi,
Hidup dengan menjalani nasib terbaik yang sudah semesta takdirkan,
Orang-orang berjalan dan melihatku kuat diatas pijakanku,
Mereka bilang;
"Kamu hanya perlu bersyukur atas hidupmu"
Mereka bilang;
"Kamu itu kuat dan bahagia, sedang aku rapuh dan bersedih"

Kadangkala aku menyesal,
Untuk tidak pernah terlihat rapuh,
Untuk tidak pernah terlihat tak berdaya,
Padahal sering sekali.

Katanya,
Aku tak berhak mengeluh,
Aku tak bersyukur jika bersedih,
Aku tamak jika masih protes.

Lagi-lagi aku hanya terseyum,
Aku bahagia atas setiap takdir yang ada,
Namun sesekali salahkah jika bersedih?
Atas segala kerapuhan yang juga aku miliki,
Atas pertanyaan 'Aku ini apa?' setiap kali aku terabaikan oleh siapapun,
Atas setiap tangis yang selalu dengan cepat kuhapus dan kuganti oleh tawa,
Atas tidak ada peluk jika aku sedang merasa kesal sampai menangis.

Mereka yang selalu bilang hidupku tak seburuk mereka,
Tidak pernah paham jika hidup disusun sedemikian rupa dengan keadilan didalamnya....


Thursday, May 7, 2020

RAMADHAN KALI INI..........

May 07, 2020 0 Comments
Marhaban ya Ramadhan!

Senang sekali rasanya bisa kembali merasakan bulan Ramadhan, bulan yang mulia, bulan penuh ampunan. Semoga kita semua diberikan kekuatan iman untuk maksimal beribadah dibulan yang istimewa ini. Aamiin!

Ramadhan kali ini, ngga sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan kali ini, umat manusia sedang diuji dengan sebuah hal yang memaksa manusia untuk tinggal dirumah dan meminimalisir berpergian kemana-mana, ya... kami sedang diuji dengan Covid-19. Sebuah virus yang berawal dari Wuhan, China yang sekarang sudah mampir ke Indonesia.

Sejujurnya, ada banyak hal positif yang didapat dengan adanya Covid-19 ini, manusia-manusia berlomba untuk melakukan hidup yang bersih, manusia mulai dekat kembali dengan keluarganya karena harus total dirumah, manusia mulai tidak sibuk bekerja, manusia mulai diberikan waktu istirahat dan beribadah yang banyak karena tidak perlu kemana-mana, manusia-manusia juga menjadi ngga boleh kumpul-kumpul yang nggak penting, dan hal-hal baik lainnya. Tapi, diluar hal positif itu, tentunya kita semua harus berdoa agar Covid-19 cepat berlalu, karena diluar hal positif itu tentunya ada berbagai hal yang membuat masyarakat resah dan tidak nyaman.

Juga, karena Covid-19 ini bulan Ramadhan kali ini banyak sekali ujiannya. Di bulan-bulan ini, bener-bener ngerasa kalau "Ternyata setiap manusia punya ujiannya masing-masing". Ujian karena Covid-19 ini salah satunya adalah didalam pekerjaan, banyak orang yang terpaksa harus dirumahkan, beberapa orang harus unpaid leave, ada yang hanya digaji beberapa persen saja, ada yang di PHK, ada juga yang masih menerima gaji secara full. Setiap orang beda-beda nasib pekerjaannya di Covid-19 ini.

"Loh? kok yang masih menerima gaji full juga termasuk ujian?"

Yang kita sering lupa, ujian itu hadirnya dalam dua jenis, ujian yang tidak menyenangkan hati juga ujian yang menyenangkan hati. Banyak dari kita yang lupa kalau sebenernya hidup ini total adalah ujian, senang atau sedih, baik atau buruk, semua ujian. Yang kita sering gak sadar juga, ujian yang tidak menyenangkan lebih bisa kita lewati dengan baik (biasanya jika sedang sulit, pasti lebih mudah untuk merasa ingin berserah dan bertaubat). Sedang, ketika sedang diuji dengan hal yang menyenangkan, rasanya lebih sulit dilewati, karena lebih mudah tenggelam oleh dunia dan lupa kalau tujuan akhir hidup sebenernya adalah akhirat. Naudzubillahmindzalik..

Untuk yang pekerjaannya terganggu karena akibat Covid-19, sudah pasti ujiannya sangat terasa, terlebih jika harus ada yang ditanggung dalam hidupnya. Sedang, yang masih menerima gaji full merasa biasa-biasa aja karena memang gak ada yang berubah dalam hidupnya, padahal mungkin Allah ingin tau loh apakah uang yang dititip ditangan kita ini membuat kita ikut turun tangan dalam membantu saudara-saudara kita yang terdampak, atau justru membuat kita apatis dan tidak peduli?
Semoga Allah mudahkan kita untuk selalu memberi, Aamiin!

Ramadhan kali ini, beda sekali dengan Ramadhan tahun lalu. Di Ramadhan kali ini sama sekali ngga buka puasa di luar, beda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang bahkan hampir ngga pernah buka puasa sama keluarga sendiri karena emang LDR (dan jarang pulang walaupun deket hehe) :") Tapi, sedih juga gak ketemu temen-temen yang biasanya udah sibuk nentuin jadwal bukber yang gak jarang harus berdebat dulu! Haha. Ramadhan kali ini aku menjadi Family-Woman sekali. wehehehe.

Tentunya selain ujian yang ada karena Covid-19, ternyata karena ada Covid-19 sebenernya juga jadi lebih mudah menghadapi ujian-ujian yang lain. Aku jadi punya alasan untuk tidak berpegian jauh, punya alasan untuk lebih menjaga diri dirumah, punya alasan untuk tidak berkumpul untuk hal-hal yang tidak penting, punya alasan untuk tidak keluar dan juga meminimalisir memakai pakaian yang tidak memenuhi syariat, dll. Salah satu nikmat yang Allah berikan ditengah-tengah pandemi ini, semuanya jadi serba mudah dan terjaga. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan-kemudahan lain sekalipun tetap berharap kalau Covid-19 ini cepat berlalu....... Aamiin Ya Allah!

Intinya, apapun yang dirasakan hari ini baik senang/sedih, pasti semua ada kebaikan didalamnya, ada ujiannya pula didalamnya. Semoga kita bisa melewati ini semua dengan baik juga selalu diberi kesehatan baik fisik maupun mental.. Aaamin!