Sunday, April 19, 2020

RELATIONSHIP ?

April 19, 2020 0 Comments
Hallo! Oke, sebelumnya mungkin tulisan ini kadaluarsa banget untuk ditulis oleh seseorang yang sudah menginjak usia 24 tahun. Kayak, umur segini masih bahas beginian? Tapi seriously, percaya gak percaya diluar sana masih banyak yang bahkan umurnya sudah menginjak kepala sekian tetap masih bingung memaknai sebuah "Relationship". Jadi, coba kita rangkum sedikit-sedikit tentang hal ini.

Pertama, sebenernya apasih "Relationship" itu sendiri?
Jujur, sampe sekarangpun gue masih belum sepenuhnya paham makna "Relationship" itu sendiri, yang gue tau selama ini, Relationship itu adalah sebuah hubungan antar umat manusia, tugas gue cuman harus menjaga hubungan baik sama orang lain, entah itu teman, pasangan, keluarga, atau siapapun. Gak peduli, mereka paham atau engga sama diri kita.

Saat gue beranjak dewasa, gue mulai memaknai relationship sebagai hubungan yang special, gue mulai hanya ingin membangun relationship hanya dengan orang yang benar memahami, gue mulai mengkotak-kotakkan perasaan gue dalam membangun hubungan dengan orang, mulai memporsikan berapa persen gue harus menaruh setiap perasaan dan perhatian gue pada setiap orang (teman, sahabat, pasangan, keluarga, orang dijalan, partner kerja, dll). Mulai menaruh prioritas gue untuk persen mana yang akan diberi lebih banyak dan persen mana yang porsinya gak terlalu banyak. Mulai merasakan juga patah hati karena ternyata persen perasaan yang gue beri terlalu over, atau mulai menyesali karena ternyata persen yang gue berikan terlalu kecil untuk orang-orang yang sebenernya sangat menghargai, dll. Intinya saat itu dan sampai saat ini gue  masih sedang memahami bagaimana seharusnya punya relationship yang baik saat mencintai lingkungan gue dan bagaimana juga seharusnya gue bisa merasa dicintai.

Lalu, sebenernya apasih makna cinta sendiri?
Jujur (lagi), sampai detik ini gue masih gak paham kalau disuruh mendefinisikan cinta. Yang gue perhatikan, orang lain akan bilang cinta sama seseorang ya kalau seseorang itu bisa memenuhi segala ego dan keinginan mereka, cinta yang sering diucapkan itu hanya ketika dua orang manusia mampu untuk saling memenuhi kebutuhan/keinginan masing-masing dalam kurun waktu tertentu. Kasarnya, kalau seseorang itu berhenti ngasih makan ego mereka, atau saat dimana kebutuhan/keinginan itu sudah beda dan tidak lagi mampu dipenuhi oleh salah satu pihak, mereka akan gak merasa butuh-butuh amat lagi sama orang itu, merasa kalau pasangan mereka sudah beda dan gak sejalan, pada akhirnya cinta yang cuman tumbuh karena "lust" hanya akan berakhir dengan "lost". Pada akhirnya cinta cuman segitu doang? dan ini berulang-ulang?

Omong kosong sekali kalau kita gak pernah ngerasa patah hati karena seseorang, pasti pernahlah ya, saat itu kita pasti merasa benar-benar hancur, benar-benar kosong, benar-benar marah, rasanya kayak dunia runtuh seketika. Yaaaaa, semuanya karena kita lagi ngga ada di zona jernih. Padahal, kalau lagi jernih pasti pas flashback ke masa itu lagi cuman bisa bilang "Bodoh banget sih". Yes! Cinta yang kayak gitu emang bikin bodoh, masih muda gapapa bodoh, asal jangan dibawa sampai tua! :)

Singkatnya, saat kita patah hati, kita merasa hati kita direnggut, merasa perasaan kita di break gitu aja, padahal sebulan dua bulan kemudian kita baik-baik aja, bahkan bisa jadi beberapa bulan kemudian kita bisa move-on dan merasa "cinta" juga membangun relationship lagi sama orang lain. Jadi sebenernya, cinta itu bisa datang - pergi gitu aja gitu?

"Mau sampai kapan?" mungkin salah satu pertanyaan yang gue lontarkan beberapa tahun silam untuk diri gue sendiri saat gue mulai memahami kalau relationship yang dibangun karena cinta harusnya gak cuman segitu doang, kalau relationship itu seharusnya gak datang - pergi gitu aja. Saat itu gue bener-bener memutuskan untuk tidak akan lagi punya hubungan dengan siapa-siapa sampai gue paham, karena gue bener-bener gak paham sama cinta, gue gak paham sama "Relationship" yang dibangun atas dasar cinta, gue masih gatau berapa persen yang harus gue berikan, gue merasa selama ini persen-nya terlalu dikit tapi gue belum siap untuk membuat itu menjadi banyak.

Awalnya gue mikir gue ngga akan bisa kayak gitu, ego gue pasti gak sanggup. Tapi, ternyata bisa. Salah satu hal yang gue lakuin saat itu hanyalah "menerima" menerima segala rasa yang ada, dan puncaknya adalah "memaafkan" entah memaafkan diri gue, orang lain, atau siapapun, dan yang terakhir adalah "value" tujuan gue apa dan bagaimana? nilai-nilai dan arti yang akan gue maknai dan terapkan seperti apa? terus harus berapa persen hati gue diberikan dalam sebuah relationship yang dibangun atas dasar cinta? dengan berhasil "menerima", "memaafkan", dan tau "value" diri sendiri, gue jadi cukup yakin kalau gue sudah bisa menjalani hubungan dengan seseorang, yang mungkin dia gak perlu repot-repot memberi makan terlalu banyak ego gue, yang gue akan jatuh cinta dengan dia tanpa diiringi kata "karena".

"So, How to find the right one?"
"There is no the right one!"

Yang terpenting, cari orang yang nggak cuman mau mempertahankan, tapi juga memelihara. Karena kembali lagi, relationship itu adalah pilihan. Yang terpenting lainnya adalah harus bisa kenal dan nyaman dengan diri sendiri secara pikiran, karena pada akhirnya cuman itu kuncinya.

Tapi, ya gue juga masih belajar sih. Lagian relationship itu perkara dua arah, perkara mau atau ngga mau, menjadi percuma kalau cuman satu pihak yang ingin membangun, dan yang terpenting jangan pernah menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang nggak bisa kita kontrol. Pada akhirnya, end goal manusia hanyalah merdeka, dalam hal apapun termasuik relationship. Kalau belum merdeka? Ya belajar lagi! :D

Dan untuk dia yang bisa membuat berani membangun lagi, Thankyou! <3