Friday, November 27, 2020

Manusia dengan Bermacam Masalahnya

November 27, 2020 0 Comments

Duduk di bus sambil mandangin jendela adalah rutinitas sehari-hari yang gue lakuin, ngeliatin macam-macam aktivitas dari yang sudah menahun bekerja sebagai tukang sapu, yang jualan nasi uduk, orang yang berkendara buru-buru atau beberapa orang pengemis dijalan. Memperhatikan gerak-gerik mereka, membuat gue mempertanyakan bagaimana perasaan mereka, memikirkan jam berapa mereka harus bangun, dan bertanya-tanya apakah mereka sudah sarapan apa belum, dan beberapa pikiran lain yang selalu lewat hampir tiap kali melihat segala aktivitas manusia lain.


Kadang, bertanya apa sebenernya usaha yang mereka lakuin biar hidup ngga gitu-gitu aja? emang mereka gak bosen hidup susah terus? dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin gak harus ada jawabannya.


Gue mungkin hanya salah satu dari banyaknya manusia yang sering disamperin sama pengemis atau pengamen kalau lagi makan, dimintai duit dengan muka yang memelas berharap gue dan manusia lain disitu memberikan sedikit duit yang kita punya. Beberapa dari mereka meminta secara halus dan langsung pergi jika ditolak, beberapa lagi malah lebih galak kalau gak dikasih. Keinget beberapa tahun yang lalu dimarahin nenek-nenek di kopaja gara-gara gue gak mau kasih duit dan malah ngobrol sama temen gue yang pas itu kita lagi nyasar dan harus random naik kopaja sembari menertawakan diri sendiri.


Setiap mereka datang yang ada di benak gue cuman "kasih gak ya?" atau "gue punya receh gak ya?" atau "si ibu bakal marah gak ya kalau gue gak kasih?" beberapa perdebatan yang selalu gue rasakan setiap ada pengemis yang datang ke gue. Kalau gue kasih biasanya pikiran itu langsung hilang, tapi kalau gue gak kasih, biasanya gue menyesal terus lanjut mikir "kenapa gak gue kasih ya?"


"kenapa gak gue kasih ya?", yang gue pikirin sebelum kalimat ini datang di otak gue adalah pikiran gue yang masih terpengaruh dengan fakta bahwa kebanyakan pengemis yang menggunakan uangnya untuk hal-hal yang gak berguna, atau berpikir kalau mereka sebenarnya kaya, cuman malas dan memilih untuk meminta-minta ke orang lain. Atau kalau mereka bawa anak kecil, gue suka mikir itu anak siapa, gue mikir apa mereka sebenernya orang jahat atau emang mereka sebenernya gabisa apa-apa sampai mereka memilih mengadu nasib jadi seorang pengemis. Atau sekedar pikiran kalau mereka gak dikasih mereka akan marah, gue gak mau kasih uang gue ke preman yang suka malak orang, dan pikiran-pikiran lainnya yang terlalu lama untuk membuat pengemis itu menunggu di depan gue sembari gue menyelesaikan perdebatan di otak gue. Sampe akhirnya gue bilang "Maaf", karena gue gak mau bikin orang lain menunggu. Setelahnya hati gue selalu bertanya lagi:


"Mo, yakin mereka ngga berusaha?"

"Yakin mo mereka udah makan?"

"Ngga nyesel kalau ternyata mereka emang sesusah itu?"


Dan pasti ada penyesalan-penyesalan kecil yang terbesit di hati gue.


Langsung flashback ke masa-masa dimana gue juga pernah sesusah itu. Gue yang alhamdulillah hidupnya selalu mudah harus ngerasain jatuh sejatuh-jatuhnya beberapa tahun lalu. Ngerasain harus kehilangan banyak hal cuman buat sekedar bertahan hidup, dari mulai hal-hal kecil kayak kamera, kursi sampai benda-benda besar kayak mobil, motor, dll harus diikhlaskan. Walaupun kalau gak pernah susah, mungkin gue gak akan buru-buru lulus kuliah dan masih jadi anak-anak yang suka ketawa-ketiwi sama temen-temen di tempat ngopi sambil pura-pura lupa sama skripsi, atau mungkin gue gak akan pernah ngerasain nahan laper dan makan cuman 1 kali sekali di kampus dan harus nunggu malam hari untuk makan lagi di rumah karena harus hemat demi gak minta uang jajan lagi, atau gue gak mungkin jadi Moza yang ambis cari kerja kesana kemari dengan sangat berani ngelewatin preman blok M pake heels dengan gaya sangar. Pas itu yang gue pikirin cuman "Kalau mereka macem-macem gue getok pake heels terus lari sekenceng-kencengnya", atau gue gak akan pernah berani naik busway rute Ciledug - Melawai yang tinggi banget padahal gua setakut itu sama tinggi. Karena segala kesusahan gue jadi berani dan belajar, kalau gue gak pernah susah gue mungkin gak pernah tau rasanya kerja keras, gak pernah bisa jadi wanita yang kuat & tegar, gak pernah jadi wanita yang dewasa dan cuman jadi anak kecil yang suka-suka dia aja dalam hidup, walaupun emang semua udah berlalu tapi banyak banget harusnya yang gue pelajari dari fase hidup ini.


Harusnya, yang gue yakini itu adalah mereka sedang berusaha dalam hidup mereka juga, gak tau mereka udah berapa kali jatuh dan harus bangkit, gue gak pernah tau gimana cara mereka menegarkan diri, walaupun dengan cara meminta-minta, gue gatau usaha apa saja yang sudah mereka lakukan dalam hidup. Seperti halnya orang lain gak pernah tau juga proses gue menjalani hidup pas gue lagi susah-susahnya, gak tau gimana susahnya gua menegarkan diri, gak tau gimana susahnya gua buat hati gua lapang, gak tau gimana susahnya gua muter otak buat cari solusi dari semuanya, bahkan gak tau gimana sedihnya gue karena bingung caranya gak nangis bahkan saat makan roti pagi-pagi.


Lantas kenapa gue masih harus menimbang-nimbang untuk sebuah kebaikan? kenapa gue harus mikir panjang lebar hanya untuk sekedar memberi? Padahal harusnya gue gak membutuhkan satu alasanpun untuk menolong orang lain.


Holla dunia. Maafin Moza yang masih banyak berprasangka hanya sekedar untuk berbagi, ya..





Thursday, October 1, 2020

-

October 01, 2020 0 Comments
Hal yang paling sulit dibumi ini adalah menyadarkan diri sendiri atas rasa dan pikiran yang gak baik.
Rasanya ingin sekali tidak terlalu banyak berpikir,
Ingin juga tidak terlalu banyak merasa.
Aku ingin menjadi normal dengan rasa & hati yang aku punya.

Tapi, rasanya gak semudah itu.
Rasanya aku gabisa mengatasi semuanya sendiri,
Rasanya semua terlalu abu-abu untuk hanya kukendalikan sendiri.

Bumi ini rasanya terlalu sulit memberikan aku celah untuk diskusi,
Aku kenapasih?
Aku kenapa gak bisa menumpahkan semua yang aku rasa sama orang lain?
Padahal itu mungkin bisa membantuku untuk menjadi normal.
Untuk mendengar saran-saran yang bijak.
Untuk meluaskan hati dan pikiran yang habis karena termakan diri sendiri.
Aku butuh 20.000 kata sehari, tapi rasanya kata yang keluar hanya 1000,
19.000 lainnya memakan pikiranku setiap hari.
Aku kenapa tidak mudah banget sih dalam mengendalikan pikiranku sendiri?

----- 

Hal yang paling aku suka dibumi ini adalah hujan,
Tapi bahkan hujan aja enggan turun, padahal aku ingin.
Ah, kenapasih? emang hujan benci aku?
Padahal engga, hujan lagi dijalan untuk menyejukkan hati yang lain.
Kamu sabar dulu.





Saturday, June 27, 2020

June 27, 2020 0 Comments
Kalau ada yang tanya bagaimana aku menjalani hidup,
Aku pasti jawab aku adalah orang terbahagia di bumi,
Hidup dengan menjalani nasib terbaik yang sudah semesta takdirkan,
Orang-orang berjalan dan melihatku kuat diatas pijakanku,
Mereka bilang;
"Kamu hanya perlu bersyukur atas hidupmu"
Mereka bilang;
"Kamu itu kuat dan bahagia, sedang aku rapuh dan bersedih"

Kadangkala aku menyesal,
Untuk tidak pernah terlihat rapuh,
Untuk tidak pernah terlihat tak berdaya,
Padahal sering sekali.

Katanya,
Aku tak berhak mengeluh,
Aku tak bersyukur jika bersedih,
Aku tamak jika masih protes.

Lagi-lagi aku hanya terseyum,
Aku bahagia atas setiap takdir yang ada,
Namun sesekali salahkah jika bersedih?
Atas segala kerapuhan yang juga aku miliki,
Atas pertanyaan 'Aku ini apa?' setiap kali aku terabaikan oleh siapapun,
Atas setiap tangis yang selalu dengan cepat kuhapus dan kuganti oleh tawa,
Atas tidak ada peluk jika aku sedang merasa kesal sampai menangis.

Mereka yang selalu bilang hidupku tak seburuk mereka,
Tidak pernah paham jika hidup disusun sedemikian rupa dengan keadilan didalamnya....


Thursday, May 7, 2020

RAMADHAN KALI INI..........

May 07, 2020 0 Comments
Marhaban ya Ramadhan!

Senang sekali rasanya bisa kembali merasakan bulan Ramadhan, bulan yang mulia, bulan penuh ampunan. Semoga kita semua diberikan kekuatan iman untuk maksimal beribadah dibulan yang istimewa ini. Aamiin!

Ramadhan kali ini, ngga sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan kali ini, umat manusia sedang diuji dengan sebuah hal yang memaksa manusia untuk tinggal dirumah dan meminimalisir berpergian kemana-mana, ya... kami sedang diuji dengan Covid-19. Sebuah virus yang berawal dari Wuhan, China yang sekarang sudah mampir ke Indonesia.

Sejujurnya, ada banyak hal positif yang didapat dengan adanya Covid-19 ini, manusia-manusia berlomba untuk melakukan hidup yang bersih, manusia mulai dekat kembali dengan keluarganya karena harus total dirumah, manusia mulai tidak sibuk bekerja, manusia mulai diberikan waktu istirahat dan beribadah yang banyak karena tidak perlu kemana-mana, manusia-manusia juga menjadi ngga boleh kumpul-kumpul yang nggak penting, dan hal-hal baik lainnya. Tapi, diluar hal positif itu, tentunya kita semua harus berdoa agar Covid-19 cepat berlalu, karena diluar hal positif itu tentunya ada berbagai hal yang membuat masyarakat resah dan tidak nyaman.

Juga, karena Covid-19 ini bulan Ramadhan kali ini banyak sekali ujiannya. Di bulan-bulan ini, bener-bener ngerasa kalau "Ternyata setiap manusia punya ujiannya masing-masing". Ujian karena Covid-19 ini salah satunya adalah didalam pekerjaan, banyak orang yang terpaksa harus dirumahkan, beberapa orang harus unpaid leave, ada yang hanya digaji beberapa persen saja, ada yang di PHK, ada juga yang masih menerima gaji secara full. Setiap orang beda-beda nasib pekerjaannya di Covid-19 ini.

"Loh? kok yang masih menerima gaji full juga termasuk ujian?"

Yang kita sering lupa, ujian itu hadirnya dalam dua jenis, ujian yang tidak menyenangkan hati juga ujian yang menyenangkan hati. Banyak dari kita yang lupa kalau sebenernya hidup ini total adalah ujian, senang atau sedih, baik atau buruk, semua ujian. Yang kita sering gak sadar juga, ujian yang tidak menyenangkan lebih bisa kita lewati dengan baik (biasanya jika sedang sulit, pasti lebih mudah untuk merasa ingin berserah dan bertaubat). Sedang, ketika sedang diuji dengan hal yang menyenangkan, rasanya lebih sulit dilewati, karena lebih mudah tenggelam oleh dunia dan lupa kalau tujuan akhir hidup sebenernya adalah akhirat. Naudzubillahmindzalik..

Untuk yang pekerjaannya terganggu karena akibat Covid-19, sudah pasti ujiannya sangat terasa, terlebih jika harus ada yang ditanggung dalam hidupnya. Sedang, yang masih menerima gaji full merasa biasa-biasa aja karena memang gak ada yang berubah dalam hidupnya, padahal mungkin Allah ingin tau loh apakah uang yang dititip ditangan kita ini membuat kita ikut turun tangan dalam membantu saudara-saudara kita yang terdampak, atau justru membuat kita apatis dan tidak peduli?
Semoga Allah mudahkan kita untuk selalu memberi, Aamiin!

Ramadhan kali ini, beda sekali dengan Ramadhan tahun lalu. Di Ramadhan kali ini sama sekali ngga buka puasa di luar, beda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang bahkan hampir ngga pernah buka puasa sama keluarga sendiri karena emang LDR (dan jarang pulang walaupun deket hehe) :") Tapi, sedih juga gak ketemu temen-temen yang biasanya udah sibuk nentuin jadwal bukber yang gak jarang harus berdebat dulu! Haha. Ramadhan kali ini aku menjadi Family-Woman sekali. wehehehe.

Tentunya selain ujian yang ada karena Covid-19, ternyata karena ada Covid-19 sebenernya juga jadi lebih mudah menghadapi ujian-ujian yang lain. Aku jadi punya alasan untuk tidak berpegian jauh, punya alasan untuk lebih menjaga diri dirumah, punya alasan untuk tidak berkumpul untuk hal-hal yang tidak penting, punya alasan untuk tidak keluar dan juga meminimalisir memakai pakaian yang tidak memenuhi syariat, dll. Salah satu nikmat yang Allah berikan ditengah-tengah pandemi ini, semuanya jadi serba mudah dan terjaga. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan-kemudahan lain sekalipun tetap berharap kalau Covid-19 ini cepat berlalu....... Aamiin Ya Allah!

Intinya, apapun yang dirasakan hari ini baik senang/sedih, pasti semua ada kebaikan didalamnya, ada ujiannya pula didalamnya. Semoga kita bisa melewati ini semua dengan baik juga selalu diberi kesehatan baik fisik maupun mental.. Aaamin!



Sunday, April 19, 2020

RELATIONSHIP ?

April 19, 2020 0 Comments
Hallo! Oke, sebelumnya mungkin tulisan ini kadaluarsa banget untuk ditulis oleh seseorang yang sudah menginjak usia 24 tahun. Kayak, umur segini masih bahas beginian? Tapi seriously, percaya gak percaya diluar sana masih banyak yang bahkan umurnya sudah menginjak kepala sekian tetap masih bingung memaknai sebuah "Relationship". Jadi, coba kita rangkum sedikit-sedikit tentang hal ini.

Pertama, sebenernya apasih "Relationship" itu sendiri?
Jujur, sampe sekarangpun gue masih belum sepenuhnya paham makna "Relationship" itu sendiri, yang gue tau selama ini, Relationship itu adalah sebuah hubungan antar umat manusia, tugas gue cuman harus menjaga hubungan baik sama orang lain, entah itu teman, pasangan, keluarga, atau siapapun. Gak peduli, mereka paham atau engga sama diri kita.

Saat gue beranjak dewasa, gue mulai memaknai relationship sebagai hubungan yang special, gue mulai hanya ingin membangun relationship hanya dengan orang yang benar memahami, gue mulai mengkotak-kotakkan perasaan gue dalam membangun hubungan dengan orang, mulai memporsikan berapa persen gue harus menaruh setiap perasaan dan perhatian gue pada setiap orang (teman, sahabat, pasangan, keluarga, orang dijalan, partner kerja, dll). Mulai menaruh prioritas gue untuk persen mana yang akan diberi lebih banyak dan persen mana yang porsinya gak terlalu banyak. Mulai merasakan juga patah hati karena ternyata persen perasaan yang gue beri terlalu over, atau mulai menyesali karena ternyata persen yang gue berikan terlalu kecil untuk orang-orang yang sebenernya sangat menghargai, dll. Intinya saat itu dan sampai saat ini gue  masih sedang memahami bagaimana seharusnya punya relationship yang baik saat mencintai lingkungan gue dan bagaimana juga seharusnya gue bisa merasa dicintai.

Lalu, sebenernya apasih makna cinta sendiri?
Jujur (lagi), sampai detik ini gue masih gak paham kalau disuruh mendefinisikan cinta. Yang gue perhatikan, orang lain akan bilang cinta sama seseorang ya kalau seseorang itu bisa memenuhi segala ego dan keinginan mereka, cinta yang sering diucapkan itu hanya ketika dua orang manusia mampu untuk saling memenuhi kebutuhan/keinginan masing-masing dalam kurun waktu tertentu. Kasarnya, kalau seseorang itu berhenti ngasih makan ego mereka, atau saat dimana kebutuhan/keinginan itu sudah beda dan tidak lagi mampu dipenuhi oleh salah satu pihak, mereka akan gak merasa butuh-butuh amat lagi sama orang itu, merasa kalau pasangan mereka sudah beda dan gak sejalan, pada akhirnya cinta yang cuman tumbuh karena "lust" hanya akan berakhir dengan "lost". Pada akhirnya cinta cuman segitu doang? dan ini berulang-ulang?

Omong kosong sekali kalau kita gak pernah ngerasa patah hati karena seseorang, pasti pernahlah ya, saat itu kita pasti merasa benar-benar hancur, benar-benar kosong, benar-benar marah, rasanya kayak dunia runtuh seketika. Yaaaaa, semuanya karena kita lagi ngga ada di zona jernih. Padahal, kalau lagi jernih pasti pas flashback ke masa itu lagi cuman bisa bilang "Bodoh banget sih". Yes! Cinta yang kayak gitu emang bikin bodoh, masih muda gapapa bodoh, asal jangan dibawa sampai tua! :)

Singkatnya, saat kita patah hati, kita merasa hati kita direnggut, merasa perasaan kita di break gitu aja, padahal sebulan dua bulan kemudian kita baik-baik aja, bahkan bisa jadi beberapa bulan kemudian kita bisa move-on dan merasa "cinta" juga membangun relationship lagi sama orang lain. Jadi sebenernya, cinta itu bisa datang - pergi gitu aja gitu?

"Mau sampai kapan?" mungkin salah satu pertanyaan yang gue lontarkan beberapa tahun silam untuk diri gue sendiri saat gue mulai memahami kalau relationship yang dibangun karena cinta harusnya gak cuman segitu doang, kalau relationship itu seharusnya gak datang - pergi gitu aja. Saat itu gue bener-bener memutuskan untuk tidak akan lagi punya hubungan dengan siapa-siapa sampai gue paham, karena gue bener-bener gak paham sama cinta, gue gak paham sama "Relationship" yang dibangun atas dasar cinta, gue masih gatau berapa persen yang harus gue berikan, gue merasa selama ini persen-nya terlalu dikit tapi gue belum siap untuk membuat itu menjadi banyak.

Awalnya gue mikir gue ngga akan bisa kayak gitu, ego gue pasti gak sanggup. Tapi, ternyata bisa. Salah satu hal yang gue lakuin saat itu hanyalah "menerima" menerima segala rasa yang ada, dan puncaknya adalah "memaafkan" entah memaafkan diri gue, orang lain, atau siapapun, dan yang terakhir adalah "value" tujuan gue apa dan bagaimana? nilai-nilai dan arti yang akan gue maknai dan terapkan seperti apa? terus harus berapa persen hati gue diberikan dalam sebuah relationship yang dibangun atas dasar cinta? dengan berhasil "menerima", "memaafkan", dan tau "value" diri sendiri, gue jadi cukup yakin kalau gue sudah bisa menjalani hubungan dengan seseorang, yang mungkin dia gak perlu repot-repot memberi makan terlalu banyak ego gue, yang gue akan jatuh cinta dengan dia tanpa diiringi kata "karena".

"So, How to find the right one?"
"There is no the right one!"

Yang terpenting, cari orang yang nggak cuman mau mempertahankan, tapi juga memelihara. Karena kembali lagi, relationship itu adalah pilihan. Yang terpenting lainnya adalah harus bisa kenal dan nyaman dengan diri sendiri secara pikiran, karena pada akhirnya cuman itu kuncinya.

Tapi, ya gue juga masih belajar sih. Lagian relationship itu perkara dua arah, perkara mau atau ngga mau, menjadi percuma kalau cuman satu pihak yang ingin membangun, dan yang terpenting jangan pernah menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang nggak bisa kita kontrol. Pada akhirnya, end goal manusia hanyalah merdeka, dalam hal apapun termasuik relationship. Kalau belum merdeka? Ya belajar lagi! :D

Dan untuk dia yang bisa membuat berani membangun lagi, Thankyou! <3


Sunday, March 15, 2020

2019

March 15, 2020 0 Comments
Rasanya telat sekali menulis tentang 2019 di tahun 2020 yang sudah lewat dua bulan lima belas hari. Tapi tetap harus ditulis sebagai kenang-kenangan tentang apa saja yang sudah dilewati di 2019 kemarin. Jika ini terasa tidak penting, kamu boleh melewatinya. Ada banyak cerita tidak menarik disini, kamu berhak untuk tidak membacanya.

2019-ku diawali dengan menjadi Moza yang pengangguran, memutar otak bagaimana caranya menjadi orang yang punya aktivitas banyak. Satu-satunya pekerjaanku saat itu hanyalah konsultasi skripsi dengan mahasiswa yang bandel suka hilang-hilangan. Yang beberapa akhirnya sudah lulus, dan sebagian lagi sampai detik ini tidak ada kabarnya. Mulai memutar otak apa saja yang akan dikerjakan di tahun 2019, menyusun draft untuk menulis buku juga menyusun beberapa topik untuk dikaji di blog, tapi hasilnya nihil. 2019-ku ternyata lebih sibuk daripada yang diduga.

Februari, setelah selesai mengurus pernikahan kakak ke-dua. Aku mulai melanjutkan hidup dengan bekerja di sebuah perusahaan di Tangerang, tepat di tanggal 13 Februari. Malam sebelumnya, setelah perjalanan mengurus berkas di Cilegon dan harus segera balik ke Tangerang, jam 10 malam hujan tiba-tiba deras, terdampar di halte bus depan tangcity sembari menunggu grab yang lama datang plus hujan dan kilat yang super banyak. Malam itu, rasanya ingin sekali menyerah, tapi juga tau kalau seorang Moza tidak mungkin menyerah.

Hari-hari selanjutnya diisi dengan Moza yang menjadi data analyst disebuah perusahaan swasta, 3 bulan pertama diisi dengan otak yang lelah karena harus berurusan dengan rumus dan angka setiap harinya, namun hari-hari berikutnya mulai terbiasa, dengan team yang punya sifat yang mirip dan satu golongan darah yang sama juga sama-sama gak suka diajak ngobrol yang gak penting tapi bisa jadi receh banget kalau diajak bercanda. Menjadi data analyst adalah salah satu pengalaman kerja yang paling menyenangkan dalam hidup. Kalau boleh milih, ingin jadi data analyst selamanya juga gak apa.

Di-tahun 2019, selain eksperimen dalam pekerjaan yang beda jalur kuliah, aku juga banyak bertemu dengan orang-orang, banyak mendengar kisah baik maupun buruk, banyak menemukan makanan-makanan baru, tempat-tempat hangout yang seru, kajian sembari pulangnya berdiskusi tentang banyak hal, teori-teori konspirasi baru, di tahun ini aku benar-benar menjadi Moza yang hidup, menjadi Moza yang mandiri sampai lupa kalau tahun-tahun sebelumnya adalah tahun terburuk yang pernah dilewati. Di tahun 2019 ini, aku paham makna ketidakberdayaanku di tahun-tahun sebelumnya, 2019 ini aku menyembuhkan diri.

Sampai akhirnya beberapa bulan berlalu, aku mulai terpikirkan untuk pulang ke Cilegon, dengan banyak alasan yang mungkin tidak semua bisa kutuliskan. Salah satu alasannya adalah karena beberapa kali aku mendengar kajian yang kurang lebih bilang "tidak baik jika seorang wanita berpergian/menetap lebih dari 90km tanpa mahrom" deg. Setiap mendengar itu, aku merasa salah, sangat salah, akhirnya ditengah rasa salahku aku mencoba cari kerja di Cilegon, yang dimana sebenarnya aku sudah sangat nyaman dengan pekerjaan saat itu. Tapi, selalu ingat pesan dosen pembimbingku ketika aku selesai sidang dulu:

"Moza itu bisa melakukan lebih untuk banyak hal, tapi harus mau keluar dari zona nyaman"

Berbekal hal-hal yang kutuliskan diatas, sembari berdoa sama Allah swt agar dilancarkan, akhirnya aku mendapatkan kerja pertamaku di Cilegon, tepat di tanggal 12 Agustus 2019 aku memulai bekerja di Cilegon, sebelum aku benar-benar baru pindahan semalam sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi ditempat kerja baru, pagi itu aku pasrah berangkat dengan berharap kalau tempat baru ini bisa nyaman seperti tempat lama. Nyatanya?

2 bulan pertama rasanya aku seperti zombie yang entah bagaimana aku saat itu, entah bagaimana perasaanku saat itu, aku bahkan tidak merasa marah jika dimarahi, tidak merasa hina jika dihina, tidak merasa kesal jika dibuat kesal. Aku melewati banyak hal buruk (versiku). Hingga puncaknya dibulan Oktober, entah bagaimana aku tidak bisa lagi menahan semuanya, aku tidak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja, pukul 18:30 aku turun dari office duduk di sebuah tempat yang sedang di line karena sedang direnovasi, menelfon sahabatku di Jakarta dan menangis sekencang-kencangnya

"aku gak kuat lagi, aku muak"
"yaudah, gak ada yang nyuruh lu kesana, balik lagi kesini aja"
"gak bisa, gak mau, gak boleh"
"kenapa?"
"huaaa aku muak, aku gak tau aku lagi apa, aku marah, aku juga gak suka di hina"
"Kalau lu masih nangis, gue jemput, gue culik biar lu balik"
"Gak mau"
"Moza, inget gak? kita semua emang gak pernah baik-baik aja, dari dulu kan juga banyak masalah, tapi bisa kan lewatinnya? gue juga gak kuat ini mo, tapi gamungkin nyerah"
"Iya, tapi udah bener-bener gak kuat"
"Iya udah berhenti dulu, kalau dimarahin lagi inget ada gue, kalau yang lain gak percaya, gue percaya, kalau yang lain gak paham, gue paham, udah pulang jangan balik malem mulu"
"iya."

Setelah malam itu, aku tidak pernah lagi menangis dan menelfon sahabatku sambil menangis. Malam itu aku tau seburuk apapun keadaan yang kulewati, selalu ada orang-orang yang dengan ringan memberikan pundak untuk sekedar merasa kalau semua akan baik-baik saja. Hari-hari berikutnya masih sama, aku masih bekerja dengan keadaan yang entah bagaimana aku bisa bertahan sampai detik ini. Meskipun, semakin kesini aku semakin terbiasa menjadi "zombie" tapi setidaknya aku sangat menikmati segala kesulitan ini, dengan keyakinan bahwa "kalau aku pada akhirnya menyerah, aku masih punya banyak orang yang paham kalau aku bukan orang yang mudah menyerah".

Tahun 2019 menjadi tahun yang ajaib, tahun yang sangat menyenangkan sekaligus yang menegangkan. Tahun dimana aku mulai lebih mengedepankan logika dibanding hati. Tahun dimana aku kebal dengan banyak hal dan sadar kalau itu semua hanya harus dilewati, bukan dicaci-maki. Tahun dimana akhirnya aku membuka hati untuk seseorang yang entah darimana datangnya. Tahun dimana aku mulai realistis tanpa banyak kata "tapi". Entahlah, tahun ini tahun yang banyak sekali menunjukan ke aku bagaimana menjadi orang dewasa sesungguhnya, bagaimana beratnya menanggung semua sendiri, tapi juga mengajarkan untuk bagaimana ringannya jika mencoba berbagi.

Terimakasih, 2019!

Friday, January 17, 2020

Hallo!

January 17, 2020 0 Comments
Sudah setahun tidak menulis, rasanya aneh sekali ditambah kali ini untuk pertama kalinya menulis di smartphone padahal sebelumnya harus ada laptop, teh dan hujan dulu baru bisa menulis.

Akhir-akhir ini rasanya lelah sekali, dengan pekerjaan yang banyak, aktivitas yg rasanya itu-itu saja, diri sendiri yang mulai banyak ketinggalan informasi tentang apapun, mulai tidak bisa mengkonsep pikiran dengan baik, dan lelah karena emosi yang mulai tidak bisa dipahami. Mulai sering bertanya, diri sendiri ini sebenernya apa?

Padahal, banyak hal yang ingin dituju, banyak hal yang ingin digapai, banyak hal yg ingin diperbaiki, tapi rasanya semakin hari hanya semakin stuck. Ngga tau harus gimana dan apa, atau ini rasanya jadi orang dewasa?

Merindukan sosok yang senang mengekspresikan dirinya, yang cuman suka pake sweater, jeans, dan converse buluk terus rebahan di rumput sambil melihat celah-celah langit dari lebatnya pohon yang ada sambil mengkhayal ngalor ngidul tentang bagaimana rasanya jadi orang dewasa ditengah orang-orang yang sibuk jadi panitia acara.

"Moza, sini deh"
"Rundown acara udah kan?"

Panggil ketua panitia yang katanya idealis sekali itu, tapi juga suka menganggu khayalan orang yang sedang memandang langit.

"Udah" kataku dengan senyum tenang padahal tau pasti harus revisi untuk keseribu kalinya.

Ah, ingat cerita itu rasanya lelahku hilang. Dulu berfikir bagaimana rasanya jadi orang dewasa?Ternyata sama saja, melelahkan. Hanya saja sekarang sudah tidak bisa rebahan dirumput. Malu sama umur.