Monday, April 30, 2018

EKS/IN-TROVERT

April 30, 2018 0 Comments

Ada banyak hal yang menarik di dunia ini, salah satu hal yang paling menarik perhatian gue adalah manusia. Manusia adalah sosok yang paling gue suka untuk dijadikan bahan observasi. Baik itu kepribadiannya, tingkah lakunya, masa lalunya, atau bahkan cerita sehari-hari yang sering disajikan antar manusia lainnya. Kali ini gue pengen membahas tentang dua hal dari kepribadian yang menurut gue cukup menarik, salah satu atau bahkan keduanya pasti dimiliki oleh semua orang. Yaps, kepribadian ekstrovert dan introvert.

Ekstrovert dan Introvert itu bagaikan dua sosok kutub yang berbeda, seperti yang sudah kita tau ekstrovert adalah sosok yang senang dengan keterbukaan terhadap dunia luar, sedangkan introvert adalah sosok yang senang berkutat dengan fikirannya sendiri. Mana yang lebih baik? Bagi gue, cenderung menjadi ekstrovert ataupun introvert itu gak ada yang salah, karena sejatinya setiap manusia pasti punya salah satu kepribadian ini, yang entah emang bawaan lahir atau dipengaruhi oleh pola asuh dan didikan dari orang tua. Kita semua pasti secara gak langsung berada di antara zona ekstrovert ataupun zona introvert.

“Kalau lu sendiri sosok ekstrovert atau introvert mo?”

Gue sendiri adalah sosok yang cukup introvert, 89% orang yang deket sama gue pasti pernah bilang hal tersebut. Gak jarang dari mereka yang “kesel” karena gue yang sulit cerita dan tidak terbuka plus suka mencari-cari alasan untuk tidak keluar rumah. Sebenernya gue pribadi hampir gak menyadari hal itu, sampe akhirnya suatu hari gue mereview diri gue dari perkataan orang lain yang bilang kalau gue adalah sosok introvert. Gue mencoba menyelami diri gue lebih dalam dan yaps! Gue akhirnya tau siapa gue dan kenapa gue pada akhirnya cenderung menjadi introvert.

Gue terlahir dari keluarga yang punya anggota keluarga banyak, sampe pada akhirnya gue dididik dengan didikan yang cukup “militer”. Makan harus habis, harus cepat, gak boleh banyak ngeluh, semua hal harus dicoba kerjain sendiri, gak boleh manja. Sampe pada akhirnya gue terbiasa mengerjakan semua hal sendiri dan nyaman dengan kesendirian itu, gue juga terbiasa memecahkan masalah sendiri tanpa melibatkan orang lain. Sampe tiba waktunya gue masuk SMP, di SMP ada sebuah masalah yang melanda gue yang secara gak langsung membuat gue harus benar-benar terjun ke dunia “sosial”. Sejak saat itu hingga hari ini gue menjadi introvert yang banyak berada di lingkungan sosial, dan itu gak pernah mudah. Gue yang tadinya cukup “keras” lambat laun harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Gue belajar untuk keluar dari zona nyaman gue dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan gue. And it’s hard for me, really hard.

Ada banyak kesalahpahaman yang terjadi, beberapa orang menuntut gue untuk lebih terbuka, untuk lebih terlihat peduli, untuk lebih menunjukan sisi asli gue. Pada akhirnya gue belajar untuk selalu menjelaskan banyak hal demi menghindari kesalahpahaman, gue belajar untuk mengenalkan diri gue ke orang lain, dan gue selalu berusaha untuk menjadi apa adanya didepan orang lain. Walaupun sampai saat ini, itu semua belum sempurna dan mungkin gak akan pernah sempurna, tapi setidaknya gue senang gue sudah mencoba. Sekalipun saat gue sudah terlalu lama didunia sosial, gue sering merasa “capek”, “capek” yang bener-bener membuat gue harus berhenti sejenak dan melakukan “me time” dan masuk lagi dalam zona nyaman gue, ”capek” yang gak bisa gue jelasin gimana rasanya karena emang bener-bener random.

Gue sangat mengagumi sosok ekstrovert, bagi gue menjadi ekstrovert itu luar biasa. Bisa dengan mudah berbagi, bisa dengan mudah menunjukan diri, bisa dengan mudah beradaptasi dan melakukan apapun tanpa beban, banyak dari ekstrovert yang dengan mudahnya diterima di lingkungan mereka. Sekalipun, beberapa dari sosok ekstrovert akan sangat gelisah ketika mereka sendirian, akan lebih mudah galau dan terpancing dengan keadaan. Beberapa orang dari temen gue yang ekstrovert adalah sosok yang sangat menyenangkan, sosok yang sampai saat ini selalu gue kagumi karena kepribadian mereka.

Sebenernya, menjadi ekstrovert ataupun introvert pasti ada plus minus nya, kedua kepribadian ini bisa banget saling melengkapi. Buat sosok ekstrovert, sangat baik belajar untuk menjadi lebih nyaman dengan kesendirian agar lebih mudah terhindar stress saat sedang sendirian dan buat sosok introvert, sangat baik untuk bisa lebih terbuka agar tidak menjadi sosok yang tenggelam dengan diri sendiri. Walaupun, kedua hal itu pasti gak akan pernah mudah. Coba lebih fleksibel dengan diri sendiri, hidup itu perlu belajar, belajar lah dari mengenal dan memperbaiki diri. Apapun kepribadian kita, semoga kita adalah sosok yang bermanfaat di bumi ini! Aamiin.

Notes: Tidak membahas ambivert ya. Ehe.


Sunday, April 22, 2018

POSESIF

April 22, 2018 1 Comments
Ada hal yang cukup menarik perhatian gue selama ini, hal yang gue yakin hampir setiap orang pernah merasakan apalagi mereka yang pernah menjalin sebuah hubungan. Baik itu hubungan antar keluarga, teman, atau pasangan. Hampir semua mungkin secara sadar atau tidak sadar pernah merasakan rasa takut kehilangan, dan rasa itulah yang terkadang menjadikan seseorang menjadi sosok yang "posesif".

Dilingkungan sekitar gue, rasanya udah gak aneh melihat banyak sosok manusia yang posesif terhadap pasangannya. Baik itu secara halus, ataupun secara kasar. Entah dengan mengecek hp pasangannya saat bertemu, atau bahkan sampai menempelkan aplikasi chat/socmed pasangannya di hp mereka sehingga mereka merasa safe dengan selalu bisa mengawasi pasangannya secara langsung. Gak jarang juga yang melarang pasangannya untuk main dengan teman-temannya (terutama kalo ada lawan jenis) dan hanya boleh main sama dia. Dan masih banyak lagi tingkah-tingkah lucu dari sosok yang posesif yang kadang suka diluar logika kita.

Buat gue, menjadi posesif itu harus dimulai dari kita kenal dengan pasangan kita, kita tau siapa pasangan kita, bagaimana dia dan lingkungannya. Karena bagi gue, ada tiga hal yang harus kita tau dimana kita harus menjadi sosok yang posesif. Pasangannya, lingkungannya, atau dua-duanya.

Kalau memang pasangan kita adalah tipe orang yang “suka bermain api” dengan lawan jenis, berarti kita memang harus menjadi sosok yang posesif sama dia, karena masalah utama kita adalah pasangan kita kalau kayak gini sih wajar aja diawasi 24 jam kalo emang lu bener-bener gak ada kerjaan lagi (ngabisin waktu banget sih).

Kedua, kita juga harus liat bagaimana lingkungan dia, siapa orang-orang yang ada dilingkungannya. Kalau emang mereka adalah orang-orang baik yang gak ada niat macem-macem sama pasangan lu, berarti aman. Tapi sebaliknya, kalau pasangan kalian punya lingkup pertemanan yang dipenuhi orang-orang yang bisa dengan mudah menaruh hati sama pasangan kalian sekalipun orang itu kenal dengan kalian, berarti lingkungannya adalah orang-orang yang “bermasalah” dan kalian berhak mencarikan pasangan kalian lingkungan yang lebih baik untuk berinteraksi dan meninggalkan lingkungan yang “bermasalah”.

Ketiga, kalau emang dua-duanya yang bermasalah, ya berarti ini tugas kita untuk intropeksi diri. Untuk memilih apa mau menjadi sosok yang super posesif atau menjadi sosok yang super bahagia dengan menikmati hidup tanpa orang-orang tersebut.

Bagi gue, menjadi sosok yang posesif itu manusiawi dan itu terjadi secara natural. Hanya saja, bagaimana kita harus bisa mengkontrol diri kita menjadi sosok posesif yang “masuk akal”.  Gue sendiri adalah pribadi yang cukup posesif, karena bagi gue isi didunia ini hampir semuanya gabisa kita percaya. Tapi, bukan berarti gue harus membatasi ruang gerak seseorang untuk hidup, bukan berarti juga gue harus mendominasi kehidupan seseorang hanya untuk gue, dan bukan berarti gue harus menjadi satpam buat kehidupan seseorang secara 24 jam nonstop. Setiap orang butuh ruang buat bernafas, setiap orang butuh untuk menikmati hidupnya sendiri. Rasanya gak adil kalo kita merenggut kehidupan seseorang hanya demi kepentingan pribadi kita

Ketika pasangan kita adalah sosok yang gak macem-macem, dan lingkungan yang dia punya cukup baik. Kita gak perlu memasang sikap posesif yang “berlebihan”, cukup pantau dan awasi tapi gak perlu mengekang. Karena, setiap orang berhak untuk punya kehidupan yang baik, jangan membebani hidup orang lain dengan sikap-sikap egois kita yang gak berlandaskan. Hidup itu pilihan, dewasalah dan mari bahagia!