Manusia dengan Bermacam Masalahnya
Duduk di bus sambil mandangin jendela adalah rutinitas sehari-hari yang gue lakuin, ngeliatin macam-macam aktivitas dari yang sudah menahun bekerja sebagai tukang sapu, yang jualan nasi uduk, orang yang berkendara buru-buru atau beberapa orang pengemis dijalan. Memperhatikan gerak-gerik mereka, membuat gue mempertanyakan bagaimana perasaan mereka, memikirkan jam berapa mereka harus bangun, dan bertanya-tanya apakah mereka sudah sarapan apa belum, dan beberapa pikiran lain yang selalu lewat hampir tiap kali melihat segala aktivitas manusia lain.
Kadang, bertanya apa sebenernya usaha yang mereka lakuin biar hidup ngga gitu-gitu aja? emang mereka gak bosen hidup susah terus? dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin gak harus ada jawabannya.
Gue mungkin hanya salah satu dari banyaknya manusia yang sering disamperin sama pengemis atau pengamen kalau lagi makan, dimintai duit dengan muka yang memelas berharap gue dan manusia lain disitu memberikan sedikit duit yang kita punya. Beberapa dari mereka meminta secara halus dan langsung pergi jika ditolak, beberapa lagi malah lebih galak kalau gak dikasih. Keinget beberapa tahun yang lalu dimarahin nenek-nenek di kopaja gara-gara gue gak mau kasih duit dan malah ngobrol sama temen gue yang pas itu kita lagi nyasar dan harus random naik kopaja sembari menertawakan diri sendiri.
Setiap mereka datang yang ada di benak gue cuman "kasih gak ya?" atau "gue punya receh gak ya?" atau "si ibu bakal marah gak ya kalau gue gak kasih?" beberapa perdebatan yang selalu gue rasakan setiap ada pengemis yang datang ke gue. Kalau gue kasih biasanya pikiran itu langsung hilang, tapi kalau gue gak kasih, biasanya gue menyesal terus lanjut mikir "kenapa gak gue kasih ya?"
"kenapa gak gue kasih ya?", yang gue pikirin sebelum kalimat ini datang di otak gue adalah pikiran gue yang masih terpengaruh dengan fakta bahwa kebanyakan pengemis yang menggunakan uangnya untuk hal-hal yang gak berguna, atau berpikir kalau mereka sebenarnya kaya, cuman malas dan memilih untuk meminta-minta ke orang lain. Atau kalau mereka bawa anak kecil, gue suka mikir itu anak siapa, gue mikir apa mereka sebenernya orang jahat atau emang mereka sebenernya gabisa apa-apa sampai mereka memilih mengadu nasib jadi seorang pengemis. Atau sekedar pikiran kalau mereka gak dikasih mereka akan marah, gue gak mau kasih uang gue ke preman yang suka malak orang, dan pikiran-pikiran lainnya yang terlalu lama untuk membuat pengemis itu menunggu di depan gue sembari gue menyelesaikan perdebatan di otak gue. Sampe akhirnya gue bilang "Maaf", karena gue gak mau bikin orang lain menunggu. Setelahnya hati gue selalu bertanya lagi:
"Mo, yakin mereka ngga berusaha?"
"Yakin mo mereka udah makan?"
"Ngga nyesel kalau ternyata mereka emang sesusah itu?"
Dan pasti ada penyesalan-penyesalan kecil yang terbesit di hati gue.
Langsung flashback ke masa-masa dimana gue juga pernah sesusah itu. Gue yang alhamdulillah hidupnya selalu mudah harus ngerasain jatuh sejatuh-jatuhnya beberapa tahun lalu. Ngerasain harus kehilangan banyak hal cuman buat sekedar bertahan hidup, dari mulai hal-hal kecil kayak kamera, kursi sampai benda-benda besar kayak mobil, motor, dll harus diikhlaskan. Walaupun kalau gak pernah susah, mungkin gue gak akan buru-buru lulus kuliah dan masih jadi anak-anak yang suka ketawa-ketiwi sama temen-temen di tempat ngopi sambil pura-pura lupa sama skripsi, atau mungkin gue gak akan pernah ngerasain nahan laper dan makan cuman 1 kali sekali di kampus dan harus nunggu malam hari untuk makan lagi di rumah karena harus hemat demi gak minta uang jajan lagi, atau gue gak mungkin jadi Moza yang ambis cari kerja kesana kemari dengan sangat berani ngelewatin preman blok M pake heels dengan gaya sangar. Pas itu yang gue pikirin cuman "Kalau mereka macem-macem gue getok pake heels terus lari sekenceng-kencengnya", atau gue gak akan pernah berani naik busway rute Ciledug - Melawai yang tinggi banget padahal gua setakut itu sama tinggi. Karena segala kesusahan gue jadi berani dan belajar, kalau gue gak pernah susah gue mungkin gak pernah tau rasanya kerja keras, gak pernah bisa jadi wanita yang kuat & tegar, gak pernah jadi wanita yang dewasa dan cuman jadi anak kecil yang suka-suka dia aja dalam hidup, walaupun emang semua udah berlalu tapi banyak banget harusnya yang gue pelajari dari fase hidup ini.
Harusnya, yang gue yakini itu adalah mereka sedang berusaha dalam hidup mereka juga, gak tau mereka udah berapa kali jatuh dan harus bangkit, gue gak pernah tau gimana cara mereka menegarkan diri, walaupun dengan cara meminta-minta, gue gatau usaha apa saja yang sudah mereka lakukan dalam hidup. Seperti halnya orang lain gak pernah tau juga proses gue menjalani hidup pas gue lagi susah-susahnya, gak tau gimana susahnya gua menegarkan diri, gak tau gimana susahnya gua buat hati gua lapang, gak tau gimana susahnya gua muter otak buat cari solusi dari semuanya, bahkan gak tau gimana sedihnya gue karena bingung caranya gak nangis bahkan saat makan roti pagi-pagi.
Lantas kenapa gue masih harus menimbang-nimbang untuk sebuah kebaikan? kenapa gue harus mikir panjang lebar hanya untuk sekedar memberi? Padahal harusnya gue gak membutuhkan satu alasanpun untuk menolong orang lain.
Holla dunia. Maafin Moza yang masih banyak berprasangka hanya sekedar untuk berbagi, ya..
