2019
Moza Amalia
March 15, 2020
0 Comments
Rasanya telat sekali menulis tentang 2019 di tahun 2020 yang sudah lewat dua bulan lima belas hari. Tapi tetap harus ditulis sebagai kenang-kenangan tentang apa saja yang sudah dilewati di 2019 kemarin. Jika ini terasa tidak penting, kamu boleh melewatinya. Ada banyak cerita tidak menarik disini, kamu berhak untuk tidak membacanya.
2019-ku diawali dengan menjadi Moza yang pengangguran, memutar otak bagaimana caranya menjadi orang yang punya aktivitas banyak. Satu-satunya pekerjaanku saat itu hanyalah konsultasi skripsi dengan mahasiswa yang bandel suka hilang-hilangan. Yang beberapa akhirnya sudah lulus, dan sebagian lagi sampai detik ini tidak ada kabarnya. Mulai memutar otak apa saja yang akan dikerjakan di tahun 2019, menyusun draft untuk menulis buku juga menyusun beberapa topik untuk dikaji di blog, tapi hasilnya nihil. 2019-ku ternyata lebih sibuk daripada yang diduga.
Februari, setelah selesai mengurus pernikahan kakak ke-dua. Aku mulai melanjutkan hidup dengan bekerja di sebuah perusahaan di Tangerang, tepat di tanggal 13 Februari. Malam sebelumnya, setelah perjalanan mengurus berkas di Cilegon dan harus segera balik ke Tangerang, jam 10 malam hujan tiba-tiba deras, terdampar di halte bus depan tangcity sembari menunggu grab yang lama datang plus hujan dan kilat yang super banyak. Malam itu, rasanya ingin sekali menyerah, tapi juga tau kalau seorang Moza tidak mungkin menyerah.
Hari-hari selanjutnya diisi dengan Moza yang menjadi data analyst disebuah perusahaan swasta, 3 bulan pertama diisi dengan otak yang lelah karena harus berurusan dengan rumus dan angka setiap harinya, namun hari-hari berikutnya mulai terbiasa, dengan team yang punya sifat yang mirip dan satu golongan darah yang sama juga sama-sama gak suka diajak ngobrol yang gak penting tapi bisa jadi receh banget kalau diajak bercanda. Menjadi data analyst adalah salah satu pengalaman kerja yang paling menyenangkan dalam hidup. Kalau boleh milih, ingin jadi data analyst selamanya juga gak apa.
Di-tahun 2019, selain eksperimen dalam pekerjaan yang beda jalur kuliah, aku juga banyak bertemu dengan orang-orang, banyak mendengar kisah baik maupun buruk, banyak menemukan makanan-makanan baru, tempat-tempat hangout yang seru, kajian sembari pulangnya berdiskusi tentang banyak hal, teori-teori konspirasi baru, di tahun ini aku benar-benar menjadi Moza yang hidup, menjadi Moza yang mandiri sampai lupa kalau tahun-tahun sebelumnya adalah tahun terburuk yang pernah dilewati. Di tahun 2019 ini, aku paham makna ketidakberdayaanku di tahun-tahun sebelumnya, 2019 ini aku menyembuhkan diri.
Sampai akhirnya beberapa bulan berlalu, aku mulai terpikirkan untuk pulang ke Cilegon, dengan banyak alasan yang mungkin tidak semua bisa kutuliskan. Salah satu alasannya adalah karena beberapa kali aku mendengar kajian yang kurang lebih bilang "tidak baik jika seorang wanita berpergian/menetap lebih dari 90km tanpa mahrom" deg. Setiap mendengar itu, aku merasa salah, sangat salah, akhirnya ditengah rasa salahku aku mencoba cari kerja di Cilegon, yang dimana sebenarnya aku sudah sangat nyaman dengan pekerjaan saat itu. Tapi, selalu ingat pesan dosen pembimbingku ketika aku selesai sidang dulu:
"Moza itu bisa melakukan lebih untuk banyak hal, tapi harus mau keluar dari zona nyaman"
Berbekal hal-hal yang kutuliskan diatas, sembari berdoa sama Allah swt agar dilancarkan, akhirnya aku mendapatkan kerja pertamaku di Cilegon, tepat di tanggal 12 Agustus 2019 aku memulai bekerja di Cilegon, sebelum aku benar-benar baru pindahan semalam sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi ditempat kerja baru, pagi itu aku pasrah berangkat dengan berharap kalau tempat baru ini bisa nyaman seperti tempat lama. Nyatanya?
2 bulan pertama rasanya aku seperti zombie yang entah bagaimana aku saat itu, entah bagaimana perasaanku saat itu, aku bahkan tidak merasa marah jika dimarahi, tidak merasa hina jika dihina, tidak merasa kesal jika dibuat kesal. Aku melewati banyak hal buruk (versiku). Hingga puncaknya dibulan Oktober, entah bagaimana aku tidak bisa lagi menahan semuanya, aku tidak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja, pukul 18:30 aku turun dari office duduk di sebuah tempat yang sedang di line karena sedang direnovasi, menelfon sahabatku di Jakarta dan menangis sekencang-kencangnya
"aku gak kuat lagi, aku muak"
"yaudah, gak ada yang nyuruh lu kesana, balik lagi kesini aja"
"gak bisa, gak mau, gak boleh"
"kenapa?"
"huaaa aku muak, aku gak tau aku lagi apa, aku marah, aku juga gak suka di hina"
"Kalau lu masih nangis, gue jemput, gue culik biar lu balik"
"Gak mau"
"Moza, inget gak? kita semua emang gak pernah baik-baik aja, dari dulu kan juga banyak masalah, tapi bisa kan lewatinnya? gue juga gak kuat ini mo, tapi gamungkin nyerah"
"Iya, tapi udah bener-bener gak kuat"
"Iya udah berhenti dulu, kalau dimarahin lagi inget ada gue, kalau yang lain gak percaya, gue percaya, kalau yang lain gak paham, gue paham, udah pulang jangan balik malem mulu"
"iya."
Setelah malam itu, aku tidak pernah lagi menangis dan menelfon sahabatku sambil menangis. Malam itu aku tau seburuk apapun keadaan yang kulewati, selalu ada orang-orang yang dengan ringan memberikan pundak untuk sekedar merasa kalau semua akan baik-baik saja. Hari-hari berikutnya masih sama, aku masih bekerja dengan keadaan yang entah bagaimana aku bisa bertahan sampai detik ini. Meskipun, semakin kesini aku semakin terbiasa menjadi "zombie" tapi setidaknya aku sangat menikmati segala kesulitan ini, dengan keyakinan bahwa "kalau aku pada akhirnya menyerah, aku masih punya banyak orang yang paham kalau aku bukan orang yang mudah menyerah".
Tahun 2019 menjadi tahun yang ajaib, tahun yang sangat menyenangkan sekaligus yang menegangkan. Tahun dimana aku mulai lebih mengedepankan logika dibanding hati. Tahun dimana aku kebal dengan banyak hal dan sadar kalau itu semua hanya harus dilewati, bukan dicaci-maki. Tahun dimana akhirnya aku membuka hati untuk seseorang yang entah darimana datangnya. Tahun dimana aku mulai realistis tanpa banyak kata "tapi". Entahlah, tahun ini tahun yang banyak sekali menunjukan ke aku bagaimana menjadi orang dewasa sesungguhnya, bagaimana beratnya menanggung semua sendiri, tapi juga mengajarkan untuk bagaimana ringannya jika mencoba berbagi.
Terimakasih, 2019!
Hari-hari selanjutnya diisi dengan Moza yang menjadi data analyst disebuah perusahaan swasta, 3 bulan pertama diisi dengan otak yang lelah karena harus berurusan dengan rumus dan angka setiap harinya, namun hari-hari berikutnya mulai terbiasa, dengan team yang punya sifat yang mirip dan satu golongan darah yang sama juga sama-sama gak suka diajak ngobrol yang gak penting tapi bisa jadi receh banget kalau diajak bercanda. Menjadi data analyst adalah salah satu pengalaman kerja yang paling menyenangkan dalam hidup. Kalau boleh milih, ingin jadi data analyst selamanya juga gak apa.
Di-tahun 2019, selain eksperimen dalam pekerjaan yang beda jalur kuliah, aku juga banyak bertemu dengan orang-orang, banyak mendengar kisah baik maupun buruk, banyak menemukan makanan-makanan baru, tempat-tempat hangout yang seru, kajian sembari pulangnya berdiskusi tentang banyak hal, teori-teori konspirasi baru, di tahun ini aku benar-benar menjadi Moza yang hidup, menjadi Moza yang mandiri sampai lupa kalau tahun-tahun sebelumnya adalah tahun terburuk yang pernah dilewati. Di tahun 2019 ini, aku paham makna ketidakberdayaanku di tahun-tahun sebelumnya, 2019 ini aku menyembuhkan diri.
Sampai akhirnya beberapa bulan berlalu, aku mulai terpikirkan untuk pulang ke Cilegon, dengan banyak alasan yang mungkin tidak semua bisa kutuliskan. Salah satu alasannya adalah karena beberapa kali aku mendengar kajian yang kurang lebih bilang "tidak baik jika seorang wanita berpergian/menetap lebih dari 90km tanpa mahrom" deg. Setiap mendengar itu, aku merasa salah, sangat salah, akhirnya ditengah rasa salahku aku mencoba cari kerja di Cilegon, yang dimana sebenarnya aku sudah sangat nyaman dengan pekerjaan saat itu. Tapi, selalu ingat pesan dosen pembimbingku ketika aku selesai sidang dulu:
"Moza itu bisa melakukan lebih untuk banyak hal, tapi harus mau keluar dari zona nyaman"
Berbekal hal-hal yang kutuliskan diatas, sembari berdoa sama Allah swt agar dilancarkan, akhirnya aku mendapatkan kerja pertamaku di Cilegon, tepat di tanggal 12 Agustus 2019 aku memulai bekerja di Cilegon, sebelum aku benar-benar baru pindahan semalam sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi ditempat kerja baru, pagi itu aku pasrah berangkat dengan berharap kalau tempat baru ini bisa nyaman seperti tempat lama. Nyatanya?
2 bulan pertama rasanya aku seperti zombie yang entah bagaimana aku saat itu, entah bagaimana perasaanku saat itu, aku bahkan tidak merasa marah jika dimarahi, tidak merasa hina jika dihina, tidak merasa kesal jika dibuat kesal. Aku melewati banyak hal buruk (versiku). Hingga puncaknya dibulan Oktober, entah bagaimana aku tidak bisa lagi menahan semuanya, aku tidak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja, pukul 18:30 aku turun dari office duduk di sebuah tempat yang sedang di line karena sedang direnovasi, menelfon sahabatku di Jakarta dan menangis sekencang-kencangnya
"aku gak kuat lagi, aku muak"
"yaudah, gak ada yang nyuruh lu kesana, balik lagi kesini aja"
"gak bisa, gak mau, gak boleh"
"kenapa?"
"huaaa aku muak, aku gak tau aku lagi apa, aku marah, aku juga gak suka di hina"
"Kalau lu masih nangis, gue jemput, gue culik biar lu balik"
"Gak mau"
"Moza, inget gak? kita semua emang gak pernah baik-baik aja, dari dulu kan juga banyak masalah, tapi bisa kan lewatinnya? gue juga gak kuat ini mo, tapi gamungkin nyerah"
"Iya, tapi udah bener-bener gak kuat"
"Iya udah berhenti dulu, kalau dimarahin lagi inget ada gue, kalau yang lain gak percaya, gue percaya, kalau yang lain gak paham, gue paham, udah pulang jangan balik malem mulu"
"iya."
Setelah malam itu, aku tidak pernah lagi menangis dan menelfon sahabatku sambil menangis. Malam itu aku tau seburuk apapun keadaan yang kulewati, selalu ada orang-orang yang dengan ringan memberikan pundak untuk sekedar merasa kalau semua akan baik-baik saja. Hari-hari berikutnya masih sama, aku masih bekerja dengan keadaan yang entah bagaimana aku bisa bertahan sampai detik ini. Meskipun, semakin kesini aku semakin terbiasa menjadi "zombie" tapi setidaknya aku sangat menikmati segala kesulitan ini, dengan keyakinan bahwa "kalau aku pada akhirnya menyerah, aku masih punya banyak orang yang paham kalau aku bukan orang yang mudah menyerah".
Tahun 2019 menjadi tahun yang ajaib, tahun yang sangat menyenangkan sekaligus yang menegangkan. Tahun dimana aku mulai lebih mengedepankan logika dibanding hati. Tahun dimana aku kebal dengan banyak hal dan sadar kalau itu semua hanya harus dilewati, bukan dicaci-maki. Tahun dimana akhirnya aku membuka hati untuk seseorang yang entah darimana datangnya. Tahun dimana aku mulai realistis tanpa banyak kata "tapi". Entahlah, tahun ini tahun yang banyak sekali menunjukan ke aku bagaimana menjadi orang dewasa sesungguhnya, bagaimana beratnya menanggung semua sendiri, tapi juga mengajarkan untuk bagaimana ringannya jika mencoba berbagi.
Terimakasih, 2019!

