Ada hal yang cukup menarik perhatian gue selama ini, hal yang gue yakin
hampir setiap orang pernah merasakan apalagi mereka yang pernah menjalin sebuah
hubungan. Baik itu hubungan antar keluarga, teman, atau pasangan. Hampir semua
mungkin secara sadar atau tidak sadar pernah merasakan rasa takut kehilangan,
dan rasa itulah yang terkadang menjadikan seseorang menjadi sosok yang
"posesif".
Dilingkungan sekitar gue, rasanya udah gak aneh melihat banyak sosok
manusia yang posesif terhadap pasangannya. Baik itu secara halus, ataupun
secara kasar. Entah dengan mengecek hp pasangannya saat bertemu, atau bahkan
sampai menempelkan aplikasi chat/socmed pasangannya di hp mereka sehingga
mereka merasa safe dengan selalu bisa mengawasi pasangannya
secara langsung. Gak jarang juga yang melarang pasangannya untuk main dengan
teman-temannya (terutama kalo ada lawan jenis) dan hanya boleh main sama dia. Dan
masih banyak lagi tingkah-tingkah lucu dari sosok yang posesif yang kadang suka
diluar logika kita.
Buat gue, menjadi posesif itu harus dimulai dari kita kenal dengan
pasangan kita, kita tau siapa pasangan kita, bagaimana dia dan lingkungannya. Karena
bagi gue, ada tiga hal yang harus kita tau dimana kita harus menjadi sosok yang
posesif. Pasangannya, lingkungannya, atau dua-duanya.
Kalau memang pasangan kita adalah tipe orang yang “suka bermain api”
dengan lawan jenis, berarti kita memang harus menjadi sosok yang posesif sama
dia, karena masalah utama kita adalah pasangan kita kalau kayak gini sih wajar
aja diawasi 24 jam kalo emang lu bener-bener gak ada kerjaan lagi (ngabisin
waktu banget sih).
Kedua, kita juga harus liat bagaimana lingkungan dia, siapa orang-orang
yang ada dilingkungannya. Kalau emang mereka adalah orang-orang baik yang gak
ada niat macem-macem sama pasangan lu, berarti aman. Tapi sebaliknya, kalau
pasangan kalian punya lingkup pertemanan yang dipenuhi orang-orang yang bisa
dengan mudah menaruh hati sama pasangan kalian sekalipun orang itu kenal dengan
kalian, berarti lingkungannya adalah orang-orang yang “bermasalah” dan kalian
berhak mencarikan pasangan kalian lingkungan yang lebih baik untuk berinteraksi
dan meninggalkan lingkungan yang “bermasalah”.
Ketiga, kalau emang dua-duanya yang bermasalah, ya berarti ini tugas
kita untuk intropeksi diri. Untuk memilih apa mau menjadi sosok yang super
posesif atau menjadi sosok yang super bahagia dengan menikmati hidup tanpa
orang-orang tersebut.
Bagi gue, menjadi sosok yang posesif itu manusiawi dan itu terjadi
secara natural. Hanya saja, bagaimana kita harus bisa mengkontrol diri kita
menjadi sosok posesif yang “masuk akal”. Gue sendiri adalah pribadi yang
cukup posesif, karena bagi gue isi didunia ini hampir semuanya gabisa kita
percaya. Tapi, bukan berarti gue harus membatasi ruang gerak seseorang untuk
hidup, bukan berarti juga gue harus mendominasi kehidupan seseorang hanya untuk
gue, dan bukan berarti gue harus menjadi satpam buat kehidupan seseorang secara
24 jam nonstop. Setiap orang butuh ruang buat bernafas, setiap orang butuh
untuk menikmati hidupnya sendiri. Rasanya gak adil kalo kita merenggut
kehidupan seseorang hanya demi kepentingan pribadi kita
Ketika pasangan kita adalah sosok yang gak macem-macem, dan lingkungan
yang dia punya cukup baik. Kita gak perlu memasang sikap posesif yang “berlebihan”,
cukup pantau dan awasi tapi gak perlu mengekang. Karena, setiap orang berhak
untuk punya kehidupan yang baik, jangan membebani hidup orang lain dengan
sikap-sikap egois kita yang gak berlandaskan. Hidup itu pilihan, dewasalah dan mari
bahagia!


Niceeee
ReplyDelete