Sunday, April 22, 2018

POSESIF

Ada hal yang cukup menarik perhatian gue selama ini, hal yang gue yakin hampir setiap orang pernah merasakan apalagi mereka yang pernah menjalin sebuah hubungan. Baik itu hubungan antar keluarga, teman, atau pasangan. Hampir semua mungkin secara sadar atau tidak sadar pernah merasakan rasa takut kehilangan, dan rasa itulah yang terkadang menjadikan seseorang menjadi sosok yang "posesif".

Dilingkungan sekitar gue, rasanya udah gak aneh melihat banyak sosok manusia yang posesif terhadap pasangannya. Baik itu secara halus, ataupun secara kasar. Entah dengan mengecek hp pasangannya saat bertemu, atau bahkan sampai menempelkan aplikasi chat/socmed pasangannya di hp mereka sehingga mereka merasa safe dengan selalu bisa mengawasi pasangannya secara langsung. Gak jarang juga yang melarang pasangannya untuk main dengan teman-temannya (terutama kalo ada lawan jenis) dan hanya boleh main sama dia. Dan masih banyak lagi tingkah-tingkah lucu dari sosok yang posesif yang kadang suka diluar logika kita.

Buat gue, menjadi posesif itu harus dimulai dari kita kenal dengan pasangan kita, kita tau siapa pasangan kita, bagaimana dia dan lingkungannya. Karena bagi gue, ada tiga hal yang harus kita tau dimana kita harus menjadi sosok yang posesif. Pasangannya, lingkungannya, atau dua-duanya.

Kalau memang pasangan kita adalah tipe orang yang “suka bermain api” dengan lawan jenis, berarti kita memang harus menjadi sosok yang posesif sama dia, karena masalah utama kita adalah pasangan kita kalau kayak gini sih wajar aja diawasi 24 jam kalo emang lu bener-bener gak ada kerjaan lagi (ngabisin waktu banget sih).

Kedua, kita juga harus liat bagaimana lingkungan dia, siapa orang-orang yang ada dilingkungannya. Kalau emang mereka adalah orang-orang baik yang gak ada niat macem-macem sama pasangan lu, berarti aman. Tapi sebaliknya, kalau pasangan kalian punya lingkup pertemanan yang dipenuhi orang-orang yang bisa dengan mudah menaruh hati sama pasangan kalian sekalipun orang itu kenal dengan kalian, berarti lingkungannya adalah orang-orang yang “bermasalah” dan kalian berhak mencarikan pasangan kalian lingkungan yang lebih baik untuk berinteraksi dan meninggalkan lingkungan yang “bermasalah”.

Ketiga, kalau emang dua-duanya yang bermasalah, ya berarti ini tugas kita untuk intropeksi diri. Untuk memilih apa mau menjadi sosok yang super posesif atau menjadi sosok yang super bahagia dengan menikmati hidup tanpa orang-orang tersebut.

Bagi gue, menjadi sosok yang posesif itu manusiawi dan itu terjadi secara natural. Hanya saja, bagaimana kita harus bisa mengkontrol diri kita menjadi sosok posesif yang “masuk akal”.  Gue sendiri adalah pribadi yang cukup posesif, karena bagi gue isi didunia ini hampir semuanya gabisa kita percaya. Tapi, bukan berarti gue harus membatasi ruang gerak seseorang untuk hidup, bukan berarti juga gue harus mendominasi kehidupan seseorang hanya untuk gue, dan bukan berarti gue harus menjadi satpam buat kehidupan seseorang secara 24 jam nonstop. Setiap orang butuh ruang buat bernafas, setiap orang butuh untuk menikmati hidupnya sendiri. Rasanya gak adil kalo kita merenggut kehidupan seseorang hanya demi kepentingan pribadi kita

Ketika pasangan kita adalah sosok yang gak macem-macem, dan lingkungan yang dia punya cukup baik. Kita gak perlu memasang sikap posesif yang “berlebihan”, cukup pantau dan awasi tapi gak perlu mengekang. Karena, setiap orang berhak untuk punya kehidupan yang baik, jangan membebani hidup orang lain dengan sikap-sikap egois kita yang gak berlandaskan. Hidup itu pilihan, dewasalah dan mari bahagia!



1 comment: